Artikel Blog

KERE IMPUN JARANGKING

Tempat dan Tanggal Laporan Karya Budaya

Tempat: Kec. Cikelet

Tanggal:  21  September  2013

Sejarah Singkat Karya budaya

Tidak diketahui dengan pasti kapan dan siapa yang pertama kali membuat jarangking. Kuliner khas pesisir Garut Selatan ini, pernah populer dan banyak dibuat oleh masyarakat Desa Cikelet, Cijambe dan sekitarnya. Konon, awal terciptanya makanan ini erat kaitannya dengan tradisi nyalawéna (detailnya dibahas sebagai mata budaya tersendiri) yang dilakukan masyarakat pesisir Garut Selatan. Ketika tradisi nyalawéna menghasilkan ikan impun yang berlimpah, terkadang ikan-ikan kecil hasil tangkapan masyarakat itu tidak bisa termanfaatkan semuanya. Saking banyaknya, sebagian terpaksa harus terbuang mubadzir. Nah, untuk mencegah hal itu, masyarakat berinisiatif mengawetkan ikan-ikan impun tersebut dengan cara membumbui dan mengeringkannya menjadi semacam dendeng. Dengan dibuat jarangking ikan-ikan impun tersebut bisa bertahan sampai beberapa bulan sehingga tidak mubadzir.

Kategori Karya budaya

kemahiran kerajinan tradisional, termasuk seni lukis, seni pahat/ukir, arsitektur tradisional, pakaian tradisional, aksesoris tradisional, makanan/ minuman tradisional, moda transportasi tradisional.

Deskripsi Singkat Karya budaya yang dilaporkan saat ini

 

Jarangking adalah kuliner khas pesisir Garut Selatan, terutama di daerah Cikelet, Cijambe, Cijayana, Rancabuaya, dan sekitarnya. Makanan ini terbuat dari ikan-ikan impun yang diawetkan dengan cara dikeringkan, semacam dendeng. Konon, makan ini diciptakan untuk mencegah ikan-ikan impun hasil tangkapan masyarakat pada saat tradisi nyalawena, yang memang berlimpah, terbuang mubadzir.

Proses pembuatan jarangking tidaklah rumit. Malah boleh dikata sangat mudah. Setelah dibersihkan, ikan-ikan impun dibumbui dengan gula merah dan garam secukupnya. Kemudian dibentuk sedemikian rupa, menjadi bulatan-bulatan tipis, seperti bentuk rengginang. Ditata di atas ayakan (sebuah perangkat dapur tradisional yang terbuat dari anyaman bambu), dengan jarak yang tidak terlalu renggang. Setelah itu, dikeringkan di bawah terik matahari. Lama pengeringan tergantung pada terik matahari. Bisa satu atau dua hari, bahkan bisa sampai seminggu. Bila cuacanya tak mendukung (mendung, hujan, dldl), bisa juga mengeringkannya di atas hawu (tungku tradisional).

Setelah kering sempurna, jarangking ini bisa bertahan hingga beberapa bulan. Asal disimpan di tempat yang kering dan bersih. Untuk mengkonsumsinya, jarangking harus digoreng terlebih dahulu. Digorengnya tidak terlalu lama, dan apinya jangan terlalu besar. Sangat cocok dijadikan lauk, dan dimakan dengan nasi hangat serta bisa juga dijadikan camilan.

Kondisi Karya budaya Saat ini

Sudah berkurang

Upaya Pelestarian/Promosi Karya budaya selama ini

Belum ada upaya untuk pelestarian/promosi karya budaya ybs

Menurut guru/maestro, komunitas atau perseorangan pemangku karya budaya, bagaimana cara-cara terbaik (Best Practices) untuk melestarikan dan mengembangkan karya budaya yang bersangkutan?

Dibina secara teratur dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk bisa diketahui di depan publik. Dipromosikan secara aktif oleh Pemda sebagai warisan budaya. Diberi subsidi atau dana pembinaan.